BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

25 Oktober 2009

KEZZ'S CERPEN

Menjemput Impian
Oleh : Bilqis Aisyah


Debur ombak silih berganti memecah tepian pantai Karang Song. Menggiring buih pada hamparan pasir putih yang terserak. Angin utara menyapa lembayung senja yang merona di kaki langit. Sekumpulan camar berkicau riang melayang di antara buih. Damai.
Rodiah hanya sendirian diantara bongkahan – bongkahan batu yang begitu kekar menangkis ombak. Gadis manis anak abah Carba –nelayan miskin di ujung kampung- itu begitu menikmati detil-detil irama ombak pantai utara. Dentuman-dentuman ombak itu seolah dengung gong yang menggerakkan setiap persendiannya. Gemerisik pasir itu seperti ketukan nayaga yang selaras dengan keluwesannya. Tubuh ramping Rodiah terus bergerak melupakan kepenatannya. Rambutnya berkibar-kibar seperti selendang yang mengikuti alunan nada. Terkadang Rodiah tertawa seperti Raksasa, terkadang berlagak bagai seorang kesatria, sesekali ia berubah menjadi puteri raja. Rodiah terus menari menatap samudra. Rodiah menari menjemput senja. Rodiah menari menggapai asa.
Selalu di setiap senja. Dan ini adalah senja yang ke-sekian ribunya ia jelang dengan sebuah tarian. Terkadang untuk lebih menjiwai setiap tariannya, Rodiah membuat topeng dari kertas yang ia gambar sendiri sesuai karakter dalam setiap tariannya. Topeng Kelana dengan spidol berwarna merah, Samba putih polos, Rumiyang dengan spidol merah jambu, Panji dengan garis-garis tipis, Kemenggung berwarna coklat dengan guratan kumis, sedangkan Kelana Udeng ia buat dari potongan kardus bekas minuman.
Ia tak pernah belajar menari. Tapi senja di batas samudra telah mengajarinya setiap gerakan-gerakan penuh estetika. Warna jingga di tepian cakrawala telah menuntun langkah kakinya penuh irama. Bongkahan karang telah menjadi panggungnya selama ratusan purnama. Umang-umang telah menjelma menjadi pengagumnya paling setia.
Menjadi Penari Topeng. Itulah impian yang selalu ia bisikkan pada angin gersang. Ia berharap angin itu akan menerbangkan impiannya menuju panggung dunia. Menari di tengah lautan manusia. Mengenakan kostum lengkap dengan topeng di wajahnya. Melangkahkan kaki diiringi para nayaga. Disaksikan oleh para tamu istimewa. Menjadi duta pariwisata ke mancanegara. Mendapat penghargaan budaya dan segala macam peristiwa yang membuat dirinya menjadi Maestro yang melegenda.
Entahlah, barangkali ia hanya akan menjadi penari topeng yang setia menghantar lelapnya matahari di ujung lautan. Atau mungkin angin tak pernah benar-benar menerbangkang impiannya, agar Rodiah bisa menemaninya membelai tiap lekuk pantai Karang Song. Seorang gadis di pinggir pantai menarikan irama lautan adalah sebuah keistimewaan paling berarti. Setiap sendi yang bergerak mengikuti laju ombak ke tepian adalah keindahan paling sejati. Namun tak seorangpun bisa menikmati. Tak sekejap matapun yang peduli.
Namun, Rodiah tetaplah Rodiah. Seorang gadis miskin yang hanya memiliki panggung batu karang dengan riuh rendah umang-umang serta sebuah ilustrasi tepuk tangan yang selalu melegakannya setiap kali melangkah pulang. Tapi Rodiah baru benar-benar pulang bila senja telah menghilang. Ia selalu ingin menjadi orang terakhir yang menyaksikan matahari tenggelam. Dan selalu ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan pergantian malam di Karang Song. Sudah sejak dulu Abahnya memaklumi kebiasaan anaknya ini. Ya, sejak kepergian Mimi, senja Karang Song telah menjadi sahabat paling akrab tempatnya mencurahkan segala perasaan. Seperti sore ini ketika Rodiah baru saja sampai di teras rumah. Abah menyambutnya dengan senyum ramah.
“Sore ini pemandangan senjanya tidak sebagus kemarin, bah.” Katanya sambil menuju sebuah kursi rotan yang sengaja diletakkan diruang tamu, sebagai pemanis. Kursi itu adalah kursi satu – satunya yang mereka miliki. Abah melirik ke luar rumah, dilihatnya langit dengan raut wajah yang sedih.
“Abah tidak melaut?” Tanya Rodiah heran, sebab biasanya lepas maghrib abah sudah berkemas untuk melaut.
“Tidak nok, air laut pasang, takut ada badai.” Kata abah.
Rodiah tak bertanya lagi, sejurus kemudian, ia bangkit meninggalkan abah yang tengah sibuk melipat jaring. Beberapa pekerjaan rumah tangga tengah menanti melengkapi keletihannya setelah seharian kerja di pengolahan ikan asin milik Bi Kusni. Jika hari-hari biasa ia hanya bekerja sepulang sekolah. Namun ini hari minggu, hingga ia harus bekerja seharian dari pagi. Beruntung sekali Bi Kusni masih mau mempekerjakan gadis belia seperti dirinya, jika tidak entah ia tak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang harus dipikul oleh Abah. Lamat-lamat tembang Bang Toyib bergemerisik dari radio tetangga. Lampu-lampu mulai menyala.

* * *

Teeett….!!!
Bel masuk sekolah berbunyi. Rodiah tergopoh-gopoh berlari memasuki ruang kelas. Tidak seperti biasanya ia terlambat. Ia harus berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk sampai ke sekolah karena ingin menghemat ongkos. Biasanya Rodiah dan teman-teman sekampungnya berangkat ke sekolah naik angkot. Namun abah sudah hampir seminggu tidak melaut. Itu artinya tidak ada pemasukan dari Abah. Sedangkan upah dari Bi Kusni hanya ia terima sebualan sekali setiap tanggal lima belas yang biasanya langsung di gunakan untuk nyaur di warung sembako langganannya.
Hari itu memang bukan hari biasa bagi Rodiah. Di sekolahpun Rodiah tampak murung dan menyendiri. Waktu istirahatnya hanya ia habiskan dengan coretan-coretan kecil di meja tulis. Beberapa teman mengajaknya ke kantin, namun ia menolaknya dengan berbagai alasan. Tanpa sadar ternyata coretan-coretan di bangku itu telah berubah menjadi potret sebuah keluarga kecil. Abah, Mimi, dan dirinya. Sebutir bening menetes di sudut matanya. Berbagai pikiran tentang masa lalu dan impian silih berganti menjerumuskannya dalam diam yang panjang.
Mimi adalah seorang Ibu yang mulia dan Istri yang Soleha bagi ayah. Ia selalu bersyukur dan menerima berapapun jumlah penghasilan Abah dari Melaut. Pernah suatu ketika Abah pulang tanpa membawa apa-apa meski tak sebutirpun beras ada di penjaringan mereka. Tapi Mimi menyambutnya dengan tersenyum berusaha mengerti dengan perjuangan Abah. Mereka melewati malam itu dengan semangkuk mi rebus yang di bagi untuk bertiga.
Ah, coba seandainya Mimi masih ada, jerit bathinnya. Lalu kenangan-kenangan berlintasan di benak rodiah. Ah, Mimi. Lihatlah anakmu ingin sekali menjadi seorang penari. Aku ingin menari di Alun-alun, di tengah lautan manusia seperti yang kita saksikan sepuluh tahun yang lalu. Mi, bawa aku dari tempat ini! Batin Rodiah makin meronta.
Mimi meninggalkannya sehari setelah Rodiah kecil mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang Penari Topeng sepuluh tahun yang lalu. Kepergian seorang ibu adalah kehilangan yang besar bagi seorang anak. Terlebih ketika itu usia Rodiah baru menginjak enam tahun. Usia yang sangat rawan bagi perkembangan seorang anak. Kata Abah Mimi pergi untuk bekerja. Namun selama sepuluh tahun kepergiaanya tak pernah sekalipun ada kabar berita. Tak ada surat, telegram, ataupun sekedar kartu pos yang sampai ke rumahnya. Dua tahun yang lalu, seorang tetangga kampung yang baru pulang dari Taiwan mengaku pernah bertemu Mimi di sebuah tempat di sudut kota Macau.
Traakk…! Tiba-tiba saja pensil yang digenggamnya patah. Rodiah tersentak dari pikiran-pikiran itu. Ia langsung ingat dengan Abah di rumah. Entah kenapa ia ingin sekali segera pulang dan merebahkan dirinya di pelukan Abah. Barangkali patahnya pensil itu hanyalah sebuah kebetulan saja, namun sungguh Rodiah merasa bahwa itu adalah suatu pertanda patahnya sebuah harapan dan cita-cita. Ah, Rodiah merasa bahwa bel pulang sekolah hari ini terasa begitu lama dan medebarkan. Ia sudah tak sabar untuk segera bertemu Abah meski tanpa alasan yang pasti.
“Abah mau melaut ya?” pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Rodiah begitu sampai di rumah mendapati Abah tengah mempersiapkan peralatan nelayan. Tubuh abah masih menyisakan kegagahan di balik kaos tipis yang di kenakannya. Ia adalah sosok lelaki yang kuat dan seorang ayah yang bijak. Sepeninggal Mimi, Abah kerap mendapat godaan dari beberapa perempuan, namun Abah adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab. Ia memilih untuk menghabiskan sisa umurnya bersama anak semata wayangnya, Rodiah.
“Abah, bagaimana jika di laut terjadi sesuatu?” Rodiah semakin khawatir. Abah menghentikan pekerjaannya. Sejenak ia menatap Rodiah dalam-dalam. Di usapnya keringat yang menempel di kening anak kesayangannya itu.
“Nok, kamu pasti capek karena berangkat sekolah berjalan kaki. Istirahatlah, abah akan melaut. Meskipun pasang, abah harus tetap melaut. Kamu jangan khawatir, semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Abah. Do’akan saja ya nok, supaya bapak bisa pulang dengan selamat dan membawa uang banyak.”
Rodiah tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berusaha untuk menguatkan hatinya. Ada yang aneh dari binar mata Abah. Abah seolah-olah menyembunyikan sesuatu darinya. Seperti sebuah penyesalan tiada tara. Namun ia berusaha menutupinya, tak ingin Rodiah menaruh curiga kepadanya. Abah melangkah berat meninggalkan Rodiah. Rodiah menatap punggung Abah benar-benar tak rela melepas kepergiannya. Rodiah merasa ada keganjilan dengan keputusan Abah yang nekat untuk tetap melaut, padahal baru kemarin Abah mengatakan bahwa ia takut ada badai. Dari balik sudut gelap di ujung gang rumah mereka Abah menangis menahan pedih. Mata laki-laki itu tak lepas dari sosok anaknya yang masih terpaku di teras rumah. Maafkan Abah,nok. Abah melakukan ini karena ingin melihatmu bahagia, bisik hatinya.

* * *

“Rodiah. Apa kamu sudah siap?” Rodiah tak mengerti dengan maksud pertanyaan lelaki yang kini tiba-tiba hadir di depannya. Rodiah sedikit bergidik melihat tampang lelaki asing itu. Lelaki hitam, berjas hitam dengan asap yang terus mengepul dari bibirnya yang juga menghitam.
“Saya Tarsa. Lengkapnya Sutarsa. Segeralah berkemas, besok pagi kita berangkat. Malam ini kita akan mengadakan gladi bersih terlebih dahulu.” Rodiah semakin tidak mengerti dengan ucapan lelaki asing itu.
“Begini, secara diam-diam kami sering memperhatikan tarian-tarianmu di pinggir pantai. Menurut kami, kamu adalah seorang penari berbakat alami. Kemahiranmu benar-benar menakjubkan. Sungguh sangat sayang apabila bakat itu di abaikan. Kebetulan kami tengah membutuhkan seorang penari berbakat alam dalam rangkaian perjalanan budaya kami ke beberapa negara. Kami akan sangat bangga bila nok Rodiah mau bergabung bersama kami. Bagaimana nok”
Tiba-tiba Rodiah merasa bahwa tubuhnya melayang ke angkasa. Sepasang sayap menerbangkannya menembus mega-mega. Ia tak tahu harus berkata apa, angannya melambung dengan mata berkaca-kaca. Setengah takjub, setengah tak percaya. Berkali-kali Rodiah mencubit pipinya, berharap ini adalah nyata. Terima kasih senja, terima kasih angin gersang, terima kasih batu karang, terima kasih umang-umang.
Ah, Mimi. Terima kasih Mimi. Akhirnya hari ini tiba. Akhirnya gadis miskin ini menuju impiannya. Mimi, Rodiah akan membuat Mimi bangga. Abah, setelah ini Abah tidak perlu nekat melaut. Rodiah akan bersekolah dengan biaya sendiri dan tidak lagi berjalan kaki. Dan Bi Kusni, Maaf. Rodiah tidak bisa bekerja di gesek lagi. Terima kasih untuk kebaikannya selama ini.
“Ayo, nok. Kita sudah di tunggu.” Suara Tarsa mendaratkan kembali kesadaran Rodiah. Dengan tersipu Rodiah langsung berkemas. Ia tak perlu lagi berpikir panjang. Tak ada yang harus di pertimbangkan. Tak ada yang mesti ia rundingkan. Impiannya telah di depan mata. Sebuah kesempatan yang sudah bertahun-tahun ia nantikan. Inilah saatnya bagi Rodiah untuk memutar roda nasibnya. Rodiah Menyiapkan beberapa helai pakaian yang masih terasa pantas ia kenakan. Memasukkan beberapa perlengkapan yang masih layak ia gunakan kemudian mnitipkan pesan agar Abah tak kehilangan.
Rodiah masuk ke dalam Pick Up milik Tarsa dengan persaan berdebar. Hayalan-hayalan telah membumbungkan harapannya. Terbang setinggi-tingginya menjemput impian.
Duh, sing ora di sangka-sang.
Duh, sing ora di nyana-nyana…
Sebuah tembang Tarling lawas dari radio dua band milik tetangga mengantar kepergian Rodiah. Dari balik sudut gelap di ujung gang, sepasang mata menatapnya penuh luka. Mata itu sudah tak sanggup membendung kepedihan dan kesakitan. Sepasang mata yang penuh keputus asaan. Sebuah tangisan yang lebih dalam dari pingsan. Sebuah kesedihan menuju batas paling tepi dari sepi. Deras air mata itu merembes menetes diatas tumpukan uang dalam genggamannya. Sepasang mata itu adalah milik Carba. Abah Rodiah.

* * *

Rodiah membuka matanya perlahan-lahan. Kelopak mata itu begitu berat. Ia terkejut menyadari bahwa ia kini telah berada di sebuah ruangan dingin bersama beberapa orang gadis seusia dirinya. Mereka pulas meski tergeletak di atas lantai tanpa alas. Cahaya redup di balik tembok tak sampai setengahnya menyentuh ruangan ini. Di sudut kanan ruang terdapat sebuah tong plastik berisi air keruh penuh jentik-jentik nyamuk yang tak terhitung jumlahnya. Beberapa centi dari tong itu menganga pipa saluran yang menebarkan bau pesing bercampur tinja ke segenap ruang.
Rodiah tersentak dengan kepala pusing bukan kepalang. Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya sehingga susah baginya untuk bersuara. Ia membangunkan seseorang di sampingnya. Tubuh gadis itu nyaris setengah telanjang. Beberapa memar terlihat di pipi kanan dan pundaknya. Sementara di sudut bibirnya yang pecah ada darah yang mongering. Entah apa yang terjadi dengan wanita malang itu. Rodiah berusaha menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu, namun tak ada respon. Ia mengira gadis itu jika tidak terlalu lelap maka pasti gadis itu tengah pingsan.
Tiba-tiba ruangan itu gaduh oleh makian-makian dan tangisan dari seorang gadis lainnya di belakang Rodiah. Gadis itu meronta-ronta menahan sakit di kepalanya. Barangkali sakit yang sama dengan yang di rasakan Rodiah. Satu-persatu semua penghuni ruangan itu terbangun. Mereka histeris dalam kegaduhan yang semakin menjadi-jadi. Rodiah baru tersadar bahwa ia dan gadis-gadis lainnya kini tengah di sekap dalam ruangan yang tidak lebih manusiawi dari sebuah penjara bagi para pencuri. Rodiah mengernyitkan kening, mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja ia alami.
Malam itu Tarsa membawa Rodiah ke sebuah tempat yang begitu mewah. Pada awalnya ia diperlakukan bagai tamu istimewa. Sebagai gadis kampung yang memiliki impian besar, tentu saja perlakuan manis Tarsa membuat Rodiah terkesan dan percaya dengan segala ucapannya. Tarsa mengiming-iminginya dengan kemewahan dan sebentang jalan meraih impian. Namun justru impian-impiannya itulah yang menjebaknya ke dalam peristiwa-peristiwa pahit dalam hidupnya. Pertemuan dengan Tarsa adalah awal dari segala bencana yang di alami Rodiah. Ia tidak pernah tahu bahwa Abah telah menghargainya dengan segenggam rupiah. Ia juga tidak pernah tahu bahwa sepuluh tahun yang lalu Mimi juga mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Dimatanya, Abah tetaplah sosok lelaki yang mulia.
Ternyata Rodiah tak pernah diminta untuk mempertontonkan tariannya. Tarsa tidak benar-benar mengagumi tariannya. Tarsa ternyata adalah musuh humanisme yang memperdagangkan manusia. Ia tidak pernah menyangka bahwa impian telah membutakannya sehingga menjadi korban kemanusiaan. Kini, segala macam penyesalan bergelayut di kelopak mata Rodiah. Segala macam caci maki dan sumpah serapah takkan bisa menjadi diplomasi yang membebaskan dirinya. Keputus asaan tiba-tiba menjadi sahabat yang ingin segera di akrabi. Dalam kondisi seperti ini, masihkah sabar dan do,a menjadi senjata seorang hamba?
Tiga orang lelaki kurus bermata sipit mendekati ruang sekap Rodiah dan kawan-kawan. Masing-masing mereka membawa nampan besar. Satu membawa nasi, satunya membawa lauk dan kerupuk, dan satu lagi membawa air minum. Waktunya makan siang bagi Rodiah dan sahabat-sahabat barunya di ruang tahanan.
“Siang ini kalian orang makan pake telor mata sapi. Dan ini ada vitamin. Jangan lupa diminum.” Kata seorang lelaki itu dengan aksen Tionghoa. Di hari ke sembilannya ini, Rodiah mendapat menu lebih baik dari sebelumnya. Biasanya ia hanya makan pake tahu basi atau ikan teri. Namun yang paling sering adalah mie tawar yang sudah mengembang karena di rendam semalaman. Suka atau tidak suka mereka harus memakannya jika tidak ingin mati kelaparan. Dan vitamin? nah inilah pertanda sesuatu akan terjadi sebentar malam. Setiap tiga hari sekali mereka selalu memberi vitamin dan obat bagi para tahanan, namun pada malam harinya satu dua orang diantara mereka dibawa keluar dari ruang tahanan. Pagi harinya mereka kembali dengan rasa nyeri di selangkangan. Mereka kehilangan keperwanan. Lalu malam ini siapakah yang akan menjadi korban? Rodiahkah, Surti, Mawar, Nining, Sri, atau…? Hantu ketakutan mengurung mereka dalam ruangan empat kali empat tanpa ventilasi entah di belahan dunia mana yang tak pernah mereka ketahui.

* * *
Rodiah dan sahabat barunya kini berada di sebuah dermaga kecil. Hanya ada tiga kapal yang bersandar. Menurut desas-desus yang ia dengar, mereka akan di bawa ke Taiwan. Tapi juga ada yang mengatakan mereka hanya akan dibawa ke pulau seberang.

Bersambung…

29 Juni 2009

Lirik Lagu Ost Boys Before Flowers



















































































Lirik Lagu Ost
"Boys Before Flowers"

Paradise – T-Max (Opening Theme)

almost paradise
ahchim boda duh noonbooshin nal hyanghan nuh eh sarangi
ohn sesang da gajin deut heh, in my life
neh jichin salmeh ggoom churum dagawa joon ni moseub eul
unjeh ggajina sarang hal soo itdamyun

nuh eh soneul jabgosuh sesangeul hyangheh himggut solichyuh
haneuleul gu luh yaksok heh youngwonhi ojik nuh maneul sarangheh

bam haneuleul byulbit gateun oori doolmaneh areumda oon ggoom paradise
nuh wa hamggeh handamyun uhdideun gal soo issuh to the my paradise

nuleul ilutdun shigan gwa geuh apoom modoo da ijuhbwa
ijeh bootuh shijak iyah nuh wa hamggeh
dduhna boneun guh ya dallyuh ganeun guh ya
loving you forever

almost paradise
taeyang boda duh ddaseuhan nal boneun nu eh nootbiteun
ohn sesang da gajin deut heh, in my life
neh jichin salmeh bit churum dagawa joon ni sarang eul
unjeh ggajina ganjik hal soo itdamyun

you are all of my love, you are all of my life
neh modeun gul guluhsuh naneun nuleul sarangheh

juh pooleun bada gateun oori areumda oon ggoom paradise
nuh wa hamggeh handamyun uhdideun gal soo issuh to the my paradise

nuleul ilutdun shigan gwa geuh apoom modoo da ijuhbwa
ijeh bootuh shijak iyah nuh wa hamggeh
dduhna boneun guh ya dallyuh ganeun guh ya
loving you forever

almost paradise
ahchim boda duh noonbooshin nal hyanghan nuh eh sarangi
ohn sesang da gajin deut heh, in my life
neh jichin salmeh ggoom churum dagawa joon ni moseub eul
unjeh ggajina ganjik hal soo itdamyun

chunsa gateun ni misoga gadeukhan oori nakwoneh
nuh maneul wihan ggotdeuldo youngwonhi chehwo bolgguhya

almost paradise
taeyang boda duh ddaseuhan nal boneun nu eh nootbiteun
ohn sesang da gajin deut heh, in my life
neh jichin salmeh bit churum dagawa joon ni sarang eul
unjeh ggajina ganjik hal soo itdamyun
unjeh ggajina sarang hal soo itdamyun


Because I’m Stupid


neh muli nuhmoona nabbasuh nuh hana bakkeh nan moleuh go
daleun sarameul bogo itneun nun ilun nen ma eumdo moleuh getji

nuheh haroo eh naran ubgetji ddo choo uk jocha ubgetjiman
nuhman balaman bogo itneun nan jaggoo noonmooli heu leuh go issuh

nuh eh dwitmoseub eul boneun gutdo nan hengbok iyah
ajik nah eh ma eum eul mollado ggeutneh seuh chi deusshi gado

ni ga nuhmoo bogo shipeun nal en
nuhmoo gyundigi himdeun nal eh neun
nuh leul sarang handa ibga eh mem dol ah
honja dashi ddo crying for you
honja dashi doo missing for you
baby i love you, i’m waiting for you

nuheh haroo eh nan ubgetji ddo giyuk jocha ubgetjiman
nuh man baraman bogo itneun nan honja choo uk eul mandeul go issuh

neh gen sarangilan areumda oon sangchuh gatta
nuh eh yehbbeun misoleul bo ahdo hamggeh nan ootjido mot heh

ni ga nuhmoo seng gak naneul nal en
gaseum shiligo seulpeun nal eh neun
niga bogoshipda ibga eh mem dol ah
honja dashi ddo crying for you
honja dashi doo missing for you
baby i love you, i’m waiting for you

bye bye never say goodbye
iluhkeh jabji mot ha jiman
i need you amoo maldo mot heh
i want you balehdo dashi balehdo

ni ga nuhmoo bogo shipeun nal en
nuhmoo gyundigi himdeun nal eh neun
nuh leul sarang handa ibga eh mem dol ah
honja dashi ddo crying for you

ni ga nuhmoo seng gak naneul nal en
gaseum shiligo seulpeun nal eh neun
niga bogoshipda ibga eh mem dol ah
honja dashi ddo crying for you
honja dashi doo missing for you
baby i love you, i’m waiting for you

Yearning of Heart - A'ST1

Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, yuri cheoreom naegen bulanhan maeumingeol
Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, idaero neol pumane dago shipo

Hessal dalmeun neowi keu miso
Barameul dalmeun ni hyangi
Ddaddeuhan sumkyeol
Singkeureoun neowi nunbichi joha

Haengboke hanadul chwihan
Sarangi kkumi dwilkkabwaDa sarajilkkabwa
Kyeote ineun ni soneul kkok jabke dwae

(Shashalal Shashalal) Hey my girl, be my girl
Shashalal Shashalala in my heart, yeongweonhi meomulrojwo

Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, yuri cheoreom naegen bulanhan maeumingeol
Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, idaero neol pumane dago shipo

Oh nan neomaneul bomyeon neomu dugeundae
Neon ireon nal bomyeonseo neul ugonhaeIreonke sarangkka
Ireonke haengbok ilkka
Maeil achim nuneul ddeugimaneul you know

Haru haru keoganeun naemam
Niga motddaraolkkabwa
Kireul ilheul kkabwa
Kyeote ineun ni soneul kkok jabke dwae

Shashalal Shashalala Hey my, be my girl
Shashalal Shashalala in my heart, yeongweonhi meomulrojwo

Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, yuri cheoreom naegen bulanhan maeumingeol
Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, idaero neol pumane dago shipo

Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeol
Hey my girl, yuri cheoreom naegen bulanhan maeumingeol
Ashwiun maeumingeol, ashwiun maeumingeol
Kyeote isseodo eonjena keuriungeolHey my girl, idaero neol pumane dago shipo

Starlight Tears – (Kim YuKyung)

seh hayan byulbit chi noonmooleul gamssayo
ddaddeut han barameh noonmooli nehlyuhyo
geudeh neuggi nayo
joyonghi soksak ineun geudeleul hyanghan i ddullimeul

hayan jongi wi eh geudel geulyuhyo
ddaddeut han misoga nal ana joonehyo
igeh sarangin gayo
doo nooneul gama bwado geudeh man bo ineun gulyo

i will be waiting for you
geudel gidal lilggehyo
duh isang apeun noonmool bo iji aneullehyo
you let me know guhjitmal gatteun sarang
nochi aneul guh ehyo balo geudeh ni ggayo

geudeh eh gi uk sokeul gutgo issuhyo
gaseum sok gadeukhi noonmooli goyuhyo
na udduhkeh gajyo
ggoomsok ehsuhdo jocha geudeleul geuli wohehyo

i will be waiting for you
geudel gidal lilggehyo
duh isang apeun noonmool bo iji aneullehyo

Lucky – Ashily


nan himi deulddehmyun lucky in my life
geudehga ggoom chuh lum daga onehyo

seulpuh jilddehmyun lucky in my dream
geudeh ddaseu hageh naleul ggok gamssa joonehyo

unjena iluhkeh oossuhyo na
sesangi himdeulgeh hehdo nan juldeh
noonmooleun bo igo shipjin anchyo
neh mameul moleuneun geudehlado
mulli suhlado geudeh eh geu miso leul
ganjikhal soo issuh daheng ijyo

oolgo shipeul dden lucky in my love
sangsang sok geudehga mutjyuh boyuhyo

ooljuk heh jimyun nan lucky in my world
geudeh ggoomgyul chulum naleul ggok anajoojyo

unjena iluhkeh oossuhyo na
sesangi himdeulgeh hehdo nan juldeh
noonmooleun bo igo shipjin anchyo
neh mameul moleuneun geudehlado
mulli suhlado geudeh eh geu miso leul
ganjikhal soo issuh daheng ijyo

modeun geh areumdawo nan nuhmoo hengbokhan gul
welo oon sesangeh nan ddo neh sowoneul damayo

unjena iluhkeh oossuhyo na
sesangi himdeulgeh hehdo nan juldeh
noonmooleun bo igo shipjin anchyo
neh mameul moleuneun geudehlado
mulli suhlado geudeh eh geu miso leul
ganjikhal soo issuh daheng ijyo

geudeh han galeumman dagawayo

nal balabwa jwoyo juhgi juh byuldeul chulum
neh mameh geudehga dwehuh jool soo ubnayo

i will be waiting for you
geudel gidal lilggehyo
duh isang apeun noonmool bo iji aneullehyo
you let me know guhjitmal gatteun sarang
nochi aneul guh ehyo balo geudeh ni ggayo

" Making A Lover "

Sesange sorijilleo I love you neolsaranghandago
Naui yeojaga doeeo dallago
Nunbusyeo Always you're my star
Naeganeol jikyeojulge
I can always be waiting for you

Jichin haruui kkeuteseo nal utgehan yuilhan saram
Himgyeoun nae sarmui kkeuteseo nal bangyeojun danhansaram
Dasi harureul sijakhae neoui yeppeun miso tteoollyeo

Nan nuguboda haengbokhae neoman naegyeote isseumyeon
Jeo haneure I promise you
Nae modeungeol neoege julge

Sesange sorijilleo I love you neolsaranghandago
Naui yeojaga doeeo dallago
Nunbusyeo Always you're my star
Naeganeol jikyeojulge
I can always be waiting for you

Wae ijeseoya ongeoni sesangeul gajingeot gata
Gomawo namanui cheonsa cheoeumcheoreom neol saranghae
Jeo haneure I promise you
Neoui modeungeol gatgosipeo

Sesange sorijilleo I love you neolsaranghandago
Naui yeojaga doeeo dallago
Nunbusyeo Always you're my star
Naeganeol jikyeojulge
I can always be waiting for you

Uri hanaman yaksokhae haneure geolgo maengsehae
Taeyang bulta eobseojil geunalkkaji neol saranghae
Oh my love

Gidohae neol heorakhae jugil neoui namjaro nal badajugil
Yaksokhae jungneun nalkkaji nae maeum byeonchi anha
I can always be waiting for you
Baby, I will forever with you
Yeongwonhi neomaneul saranghae


Do You Know?(Someday)

nan hessal eh nooni booshin shing geulun achimi omyun
sarangeh nooneul ddeumyuh nolel heh yo
ojik geudeh hanaman wihehsuh

for you~ i love you, only you
sulleh ineun mam gadeuk heh
hyangi lo eun kuhpi boda boodeuluh oon
na eh soom gyullo geudehleul bo ayo

anayo? geudehneun neuggijyo geudehdo
gaseumi mal hago itneun sarangilan gullyo
deullyuhyo? ijehneun bo ah yo, ijehneun
ggotboda duh areumda oon soojoobeun ma eumeul

nal harabayo. na eh soneul ggok jabayo
hengbokhan giboonijyo noonbooshin oonmyungijyo
sarangeh hyang gi eh miso ji uh yo

nan barami booluh omyun
salmyushi doo neuneul gamgo
sarangheh joomoon chulum soksak yuh yo

ilun nehmameul neuggil soo itdolok
geudeh neh nooneul bo ah yo
sulleh ineun mam gadeuk heh
mabub gateun kisseuh chulum ddasaro eun
na eh ma eumeul ijeh neun bo ah yo

anayo? geudehneun neuggijyo geudehdo
gaseumi mal hago itneun sarangilan gullyo
deullyuhyo? ijehneun bo ah yo, ijehneun
ggotboda duh areumda oon soojoobeun ma eumeul

nan yaksok heh yo oori son eul ggok gulluh yo
hengbokhan giboon ijyo noonbooshin oonmyung ijyo
sarangeh hyang gi eh chwi heh bo ah yo youngwon hi

anayo? geudehneun neuggijyo geudehdo
gaseumi mal hago itneun sarangilan gullyo
deullyuhyo? ijehneun bo ah yo, ijehneun
ggotboda duh areumda oon soojoobeun ma eumeul
oloji nan geudeh maneul sarang habnida

03 Juni 2009

KIM SANG BUM
























































pAda tw ega nni sYppa???
pSti dH pdA kNal sMua cKan ..
yUpt,
nni kiM bUm .
ttu tu yAn mAin d dRama aSia " Boys Before Flowers " ,,,
gMna pNilaian kLyan aBout kiM bUm nni???
cuTe cKan???
Haha ...
is jUst i tHink ,,
kLu mNrut kLyan b'bdA c,
y wHateVer .
mNrut qw nni cWo mNiss bEud ( guLa kLee) ,,
lCu, iMut, kLytan.n jg kEk cWo' lMbut ... ( tiPe qw bEud )
Hahayy ~
kLu ad yAn bLang kim bUm bySa jj, tRtma cWe' ( wAhh aWas kLainan ttu..)
Hhe~
jUst kidDing ,,
cWo mAniss bRnma lgKap kim sAng bUm nni tRnyta lHir tgL 7 jUli tHun 1989 gtU ...
mSii mudA cKan???
y sEenggak.n cMa bdA 6 tHun laa ams qw ,
Huehehe ...
cWo iMut nni jg tNyta berzodiak cAncer ,,
mMlki tiNggi 181 cm ( ega bdA bRpa laa ams qw ),
tRus mMlki bRat bdAn 63 ,,, ( ega gNdut2 amt laa ,, iia cKan?)
ega tw pSona aph yAn bKin qw sKa ams kiM bUm nni .
aWl.n c qw cMa lyAd iKlan bOys bEfore fLowers .
eh, cWo mNiss nni kEk lgSung nRik qw k dUnia.n ,,,
jdlah qw cRi iNformsi tNtg nni cWo .
and tRus nOngkrongin drama aSia.n yAitu " Boys Before Flowers "
stYap hRi sNin and sLsa, jAm 21.30 d iNdosiar ...
" JAN LUPA NONTON EA ....."!
tHe last,
qw pEn bEud ktMu ams kiM bUm ( jAn mLuk2 laa ),
aSlkan dPt nUmb hp.n jj qw dH sNeng bEud ..
( nAh bHsa.n???) byAr laa wLopun qw ega bS bHsa.n dya,
aSlkan wdd kOleksi nUmb Hp, bYsa wdd mNuh2'n dFtr kOntak Hp .
Hahayy~
pKo'.n qw ska bEud ams kiM bUm ,,, ( cWo lo?)
tNang, kAu tTap yAn t'bAik ,.
tp kiM bUm???
nUmber oNe in my hEart ,,
Hhe~
( jAn cMbru yAnk ..)
`tRakhir,
pKo.n c cHayoo tRus wdd kiM bUm,
moGa kiM bUm sKses tRus .
rZki.n lNcar, tRus eXist, tRus dPt jOb mAin fiLm ( jAn lPa, ngJak2 ea ..),
tRus, mogA cPet dPt cWe yAn bAik ( jAn jAuh2 laa, nni yAn gy pOsting bLog.n jj sKlyan ) ..Haha ...
Amiin ,,,
oNe's agAin ,
TONGKRONGIN TRUS " BOYS BEFORE FLOWERS ",
STIAP HARI SENIN AND SELASA,
PUKUL 21.30 di INDOSIAR .
" JAN LUPA EA...!"